Transportasi

TRANSPORTASI
Tujuan Pengembangan Sistem Transportasi
  1. Tersusunnya suatu jaringan sistem transportasi yang efisien & efektif;
  2. Meningkatnya kelancaran lalu-lintas dan angkutan;
  3. Terselenggaranya pelayanan angkutan yang aman, tertib, nyaman, teratur, lancar dan efisien;
  4. Terselenggaranya pelayanan angkutan barang yang sesuai dengan perkembangan sarana angkutan dan teknologi transportasi angkutan barang;
  5. Meningkatnya keterpaduan baik antara sistem angkutan laut, udara dan darat maupun antar moda angkutan darat;
  6. Meningkatnya disiplin masyarakat pengguna jalan & pengguna angkutan
Prasarana transportasi dikembangkan sebagai pelayanan angkutan terpadu untuk lalu lintas lokal, nasional, regional dan internasional yang disusun dalam kerangka kerja seperti pada gambar di bawah ini.
Peta Rencana Jaringan Kereta
Peta Rencana Jaringan Jalan dan Terminal
Pengembangan Fasilitas Pejalan Kaki ( Pasal 19 )
  1. Pembangunan fasilitas jalan kaki yang memadai untuk menumbuhkan budaya berjalan kaki, terutama untuk perjalanan yang relatif pendek ( Pasal 45 )
  2. Fasilitas pejalan kaki juga memperhitungkan penggunaannya bagi penyandang cacat ( Pasal 19 )
  3. Pembangunan fasilitas penyeberangan orang ( Pasal 19 )
Pengembangan Angkutan Jalan (Pasal 19)
  1. Pengembangan Sistem Angkutan Jalan
    Pengembangan Jaringan Jalan Sesuai dengan Fungsi Dan Hirarki Jalan ( Pasal 19 ayat 5)
  2. Penataan Pelayanan Angkutan Umum
    1. Angkutan bus besar hanya pada jalan arteri ( Pasal 19 ayat 5)
    2. Angkutan bus sedang hanya pada jalan kolektor ( Pasal 19 ayat 5)
    3. Angkutan mikrolet hanya pada jalan lokal ( Pasal 19 ayat 5)
  3. Pengembangan Fasilitas Parkir ( Pasal 19 ayat 7)
    Membangun gedung-gedung parkir dan atau taman parkir pada pusat kegiatan untuk menghilangkan parkir pada badan jalan secara bertahap
  4. Manajemen Lalu-lintas ( Pasal 19 ayat 6)
    1. Sistem satu arah
    2. Pengaturan dengan lampu lalu-lintas
    3. Kebijakan pembatasan lalu-lintas pada daerah tertentu.
Arahan Pengembangan Kereta Api
Pengembangan Sistem Jaringan dan Kapasitas Angkutan Kereta Api (Pasal 19 ayat 3)
  1. Kereta Api Layang
  2. Kereta Api Pada Permukaan
  3. Kereta Api Bawah Tanah
Pengembangan Sistem Angkutan Kereta Api (Dimulai Pasal 45 ayat c)
  1. Peningkatan Jalur Lingkar (Loop Line)
  2. Peningkatan Jalur Tengah (Central Line)
  3. Lintasan Baru Fatmawati – Kota dengan Jaringan Bawah Tanah Secara Proporsional
  4. Lintasan Baru Duri – Kemayoran Dengan Jaringan Bawah Tanah Secara Proporsional.
Pengembangan Kawasan Prioritas
(Ditetapkan berdasarkan besar dan strategisnya kontribusi yang diberikan dalam pembangunan untuk mewujudkan Kota Jakarta sebagai Kota Jasa Internasional)
  1. Kawasan Pantura
    1. Perbaikan kualitas lingkungan pantai lama
    2. Reklamasi perairan laut Teluk Jakarta seluas ± 2.700 Ha.
  2. Penataan koridor 13 sungai
    1. Penataan kembali dimensi dan ruang koridor 13 sungai.
    2. Menata kembali kawasan pinggir sungai dengan merubah orientasi bangunan dan lingkungan.
  3. Pembangungan Banjir Kanal Timur
  4. Sistem angkutan umum massal
Sistem Angkutan Umum Massal Jakarta (Mass Rapid Transpotrs – MRT)

Deskripsi Sistem
(Fatmawati – Kota)
  • Panjang lintasan = 19 km
  • Jarak antar stasiun = 1 km
  • Alinyemen vertikal sebagian di bawah tanah dan sebagian melayang
  • Kapasitas sistem = 40.000 penumpang per jam per arah
  • Panjang platform = 140 m
  • Jarak antar rel = 1435 mm (standard)
  • Pengumpulan energi = 1500 Volt DC)
  • Kecepatan maksimum = 80 km/jam
  • Kecepatan rata-rata = 35 km/jam
  • Formasi = 6 gerbosng/rangkaian
  • Dimensi gerbong: panjang 23 m dan lebar = 3,2 m
  • Kapasitas angkut = 2100 penumpang per rangkain kereta
  • Selang waktu kedatangan antar kereta = 2 – 5 menit (jam sibuk)
  • Waktu operasi = 18 jam (06.00 – 24.00).

Komentar bertahan »

Pemukiman

POLA IMPLEMENTASI PEMBANGUNAN PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN DI DKI JAKARTA
Peta Wilayah Pengembangan DKI Jakarta

Komentar bertahan »

Banjir

PENGENDALIAN BANJIR
Kondisi Objektif Propinsi DKI Jakarta
  1. Luas Jakarta 65.000 Ha;
  2. 40 % (24.000 Ha) daratan rendah dibawah muka laut pasang 1 s/d 1.5 m;
  3. Dari 40 % tersebut yang sudaj dilayani dewngan sistem Polder baru 11.500 Ha;
  4. Daerah tangkapan hujan yang mempengaruhi Jakarta meliputi Bopunjur dengan luas 85.000 Ha;
  5. Air dari hulu mengalir melalui 13 sungai/kali menuju laut melewati Jakarta;
  6. Sebagian ruas Ciliwung telah di-revitalisasi, namun beberapa kali dan ruas kali belum dinormalisasi seperti kali Grogol, kali Krukut, kali Sunter bahkan pada bantaran kali dijadikan tempat hunian(bangunan liar) sehingga terjadi penyempitan penampungan;
  7. Water ratio wilayah Prop.DKI Jakarta baru mencapai 2,41 % ( target 2010: 4,92 % );
  8. Pembangunan dan perubahan tataguna lahan di Bopunjur dan Jabodetabek yang sangat pesat menyebabkan terjadinya penambahan debit air sungai melampaui kapasitas maksimumnya ( menambah run-off air );
  9. Akibat ekploitasi air tanah dalam yang berlebihan dan beban bangunan bertingkat menyebabkan terjadinya penurunan tanah (land subsidence), yang menambah daerah rawan banjir.
Ancaman Banjir
  1. Arah Selatan: Kerusakan Lingkungan di Daerah Hulu Sungai
  2. Arah Utara: Pasang Laut
  3. Arah Atas: Curah hujan Tinggi
  4. Arah Bawah:
    1. Kondisi Topografi Jakarta
      1. 40 % Berupa Dataran Rendah (1 – 1,5 m) dibawah muka laut pasang
      2. Muara 13 Sungai
    2. Penduduk Jakarta yang padat
    3. Perubahan Fungsi Lahan
    4. Penurunan Tanah (Land Subsidence)
Daerah Aliran Sungai Jabodetabek

Komentar bertahan »

sampah

PENGELOLAAN SAMPAH
Distribusi Produksi Sampah di DKI Jakarta
Rencana Pengelolaan Sampah
  1. Solid waste management system improvement project in the city of Jakarta in Indonesia (JICA 1987):
    1. Estimasi sampah 2005 = 10.220 ton/hari;
    2. Sistem sanitary landfill di 2 lokasi (belahan Timur dan belahan Barat);
    3. Stasiun peralihan antara untuk meningkatkan efisiensi pengangkutan sampah;
    4. Reklamasi laut dengan sampah, penggunaan incinerator, dan pengkomposan;
    5. Sistem pelayanan langsung dan tak langsung.
  2. PERDA Tahun 1999 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Propinsi DKI Jakarta 2010:
    1. Lokasi sanitary landfill untuk bagian Barat dan Selatan;
    2. Pengembangan stasiun peralihan antara;
    3. Pengembangan penggunaan incinerator;
    4. Perluasan penggunaan teknik komposting dan alternatif teknologi lain dalam pengolahan;
    5. Pembangunan recycle plant;
    6. Peningkatan peran serta masyarakat melalui konsep 3R (Recycle, Reuse, Reduce);
    7. Perluasan penggunaan metode pemilahan sampah di sumber, di dalam proses pengangkutan, dan di TPA.
Rencana Pola Pengelolaan Sampah (JICA)
Realisasi Rencana Pengelolaan Sampah
  1. Pembangunan TPA Bantar Gebang – Bekasi (belahan Bimur);
  2. Persiapan TPA Ciangir – Tangerang (belahan Barat);
  3. Pembangunan SPA Cacing oleh swasta;
  4. Pembangunan SPA Sunter;
  5. Pembangunan TPS sebagai sarana pelayanan tidak langsung;
  6. Peningkatan pelayanan pengangkut sampah;
  7. Pembangunan incinerator skala kecil;
  8. Pelaksanaan komposting skala kecil;
  9. Pelaksanaan konsep 3R di TPS.

Komentar bertahan »

Tempo dulu

MENUJU JAYAKARTA
(halaman 2 dari 2)
Adalah Tome Pires (The Suma Oriental), seorang musafir Portugis yang mengunjungi Sunda Kelapa, menuliskan bahwa pelabuhan ini telah dikunjungi kapal-kapal dari Palembang, Tanjungpura, Malaka, Makasar, Madura dan juga pedagang-pedagang dari India, Tiongkok Selatan dan kepulauan Ryuku (kini Jepang). Pires yang datang bersama Enrique Leme, utusan Gubernur Jenderal Portugis, d’Alboquerque, tiba di Sunda Kelapa pada 1522. Kehadiran mereka ini memang telah ditunggu Raja Sunda Samian atau Sangiang (Sang Hyang) Surawisesa (1521-1535), yang ketika masih menjadi putra mahkota sempat mengunjungi d’Alborquerque yang telah menguasai Malaka sejak 1511.
Link Terkait
STAD Batavia
OUD Batavia
Metropolitan Weltevreden
Masyarakat Betawi
Ibukota Republik Indonesia
Dan selanjutnya, pada 21 Agustus 1522 disepakati sebuah perjanjian persahabatan antara Kerajaan Sunda dan Kerajaan Portugal. Menurut A.Heuken SJ (Historical Sites of Jakarta), “inilah perjanjian internasional pertama di negara kepulauan yang kemudian dikenal sebagai Indonesia kini”. Di dalam tulisan J.D. Baros (Da Asia), dalam perjanjian itu, saksi dari Sunda Kelapa adalah ‘Padam Tumongo, Ssamgydepati et Bemgar, – yakni Paduka Tumenggung, Sang Adipati dan (Syah)bandar dan dari pihak Portugis delapan orang. Masing-masing, Fernao de Almeida (bendahari pelayaran); Fransisco Eanes (pencatat muatan); Joao Countinho; Gil Barbosa; dan Thome Pinto. Menurut Hoesein Djajadiningrat (Tinjauan Kritis tentang Sejarah Banten), perjanjian itu (tidak ditandatangani oleh pihak Sunda, tetapi) disyahkan menurut adat dengan mengadakan selamatan.
Abad ke 12 kapal Arab sudah singgah di bandar-bandar pesisir utara Jawa.
Sebagai tanda perjanjian tersebut, sebuah batu besar ditanam di pantai. Batu yang disebut padro itu ditemukan kembali pada tahun 1918, waktu dilakukan penggalian untuk membangun rumah baru di pojok persimpangan Prinsen Straat dan Groene Straat di Jakarta Kota. Jalan-jalan itu sekarang bernama Jl Cengkeh dan Jl Nelayan Timur. Adapun batu padrao sekarang disimpan dalam Museum Nasional di Jl. Medan Merdeka Barat. Lokasi semula batu ini menunjukkan, bahwa pantai pada awal abad ke-16, kurang lebih lurus dengan garis yang kini menjadi Jl. Nelayan.
Tentang kenapa Raja Pakuan Pajajaran menerima perjanjian tersebut diduga karena mereka memandang kehadiran Portugis akan memperkokoh posisi mereka dalam urusan niaga terutama lada, maupun dalam menghadapi tentara Islam dari Kesultanan Demak, yang kekuatannya sedang naik daun di Jawa Tengah.
Tentu saja, Perjanjian Sunda-Portugis ini mencemaskan Sultan Trenggana dari Demak. Maka, karena itu pada tahun 1526/1527, Fatahillah, panglima pasukan Cirebon, yang bersekutu dengan Demak, mendatangi Sunda Kelapa dengan 1.452 orang tentara. Dan sejak itu, penduduk Sunda yang terkalahkan mundur ke arah Bogor. Adapun Jayakarta (nama baru Sunda Kelapa sejak 1527) dihuni oleh ‘Orang Banten’ yang terdiri dari orang yang berasal dari Demak dan Cirebon bersama saudagar-saudagar Arab dan Tionghoa di muara Ciliwung. Adapun penguasaannya berada di bawah Cirebon dan untuk kemudian di bawah Banten.
Abad ke 16 kapal Portugis atau galeon mulai tampak di perairan Lautan Hindia dan sekitarnya.
Kapal layar Belanda pada sebuah batu dari Kastael Batavia yang disimpan dalam Museum Sejarah Jakarta.
Menurut perhitungan dan perkiraan Dr. Soekanto, kejadian itu terjadi pada tanggal 22 Juni 1527, yang kini dirayakan sebagai hari jadi kota Jakarta. Menurut Soekanto, pada hari itu Fatahillah memberi nama baru pada Sunda Kelapa karena kemenangannya atas tentara Hindu Sunda dan awak kapal Portugis. Tetapi, dasar historis hipotesis tersebut ada beberapa yang meragukannya. Setidaknya Perdana Menteri RI Ali Sastroamidjojo pada tahun 1956, sewaktu menghadiri perayaan pertama hari ulang tahun Jakarta merasa terheran-heran dan setengah mengejek ‘peringatan ganjil’ itu.
Kapal Kompeni Belanda yang menjadi tulang punggung imperium niaga dari capetown sampai nagasaki dengan Batavia sebagai pusat kegiatannya
Sementara itu, menurut Prof.Dr.Slametmuljana dari Universitas Indonesia, penamaan kota ini menjadi Jayakarta baru diperoleh dari adipati yang ketiga, yakni Pangeran Jayawikarta atau Wijayakarta. Namun, belum terdapat data sejarah yang pasti membenarkan salah satu hipotesis tersebut. Hanya saja, Walikota Soediro (1952-1960), memperoleh dukungan dari Dewan Perwakilan Rakyat untuk teori Dr. Soekanto. Maka, pemerintah Jakarta berpegang pada teori ini. Keputusan 1956 tersebut disebut sebagai ‘kemenangan Soediro’ berlandaskan ‘kemenangan Fatahillah’ yang kurang pasti tanggalnya. Dengan demikian, sebagaimana diungkapkan ahli sejarah Abdurrachman Surjomihardjo, perdebatan historis itu telah diselesaikan (?) dengan keputusan politis.
Dan, menurut Dr. Soekanto, sebagai seorang pimpinan Muslim, Fatahillah tentu teringat kepada Surah Al-Fath, ayat 1, yang berbunyi, “Inna fatahna laka fathan mubinan,” (Sungguh Kami telah memberi kemenangan kepada mu, kemenangan yang tegas atau Jayakarta). Sementara menurut Abdurrachman Surjomihardjo, di samping itu, sering pula dipakai kata Surakarta, yang berarti karya yang berani dan sakti. Tetapi nama Jayakarta lebih terpakai. Adapun, nama Jakarta itu sendiri muncul pertama kali dalam buku Joao de Barros, Da Asia…, (Xacatra por outro nome Caravam – ‘Xacatra yang disebut juga Caravam (=Karawang).
Kapal Spanyol abad ke 16 yang masuk perairan Indonesia lewat lautan pasifik
Kapal Galleon Inggris dari zaman Ratu Elizabeth I. Kapal seperti ini digunakan dari abad 16 – 18.
Naskah ini diterbitkan pada tahun 1552 dari sumber yang lebih tua.

Komentar bertahan »

Tempo dulu-1

AKARTA TEMPO DULU
MENUJU JAYAKARTA
(halaman 1 dari 2)
Catatan sejarah mengenai masyarakat pertama kali yang bermukim dan hidup secara teratur di kawasan yang kini dinamakan Jakarta, diduga adalah penduduk Kerajaan Tarumanegara, sekitar abad ke-5. Saksi tertua akan informasi tersebut adalah Prasasti Tugu, yang hampir seribu empat ratus tahun lamanya tertanam di desa Batu Tumbuh (Tugu), Jakarta Utara, dan pada tahun 1911 dipindahkan ke Museum Nasional. Bekas tempat berdirinya prasasti itu kini tertutup jalan aspal, walaupun inilah monumen historis tertua tentang Jakarta.
Link Terkait
STAD Batavia
OUD Batavia
Metropolitan Weltevreden
Masyarakat Betawi
Ibukota Republik Indonesia
Abad ke 8 kapal-kapal dari Jawa berlayar ke laut lepas membawa pulang barang dagangan serta pengalamannya selama di dunia luar. Gambar ada pada relief candi Borobudur.
Tentang Prasasti Tugu ini, A.Heuken SJ (Sumber-Sumber Asli Sejarah Jakarta), menyebutkan bahwa prasasti tersebut berkaitan dengan empat prasasti tua di Jawa lainnya yang berasal dari masa Purnawarman, penguasa Kerajaan Tarumanegara. Keempat batu lainnya yang juga ditulis dalam bahasa Sansekerta adalah: Prasasti Ciaruteun, Prasasti Cidanghiang (Lebak), Prasasti Kebon Kopi (Ciampea) dan Prasasti Jambu (Nanggung; sebelah barat Bogor).
Abad ke 5 Jung-jung Tionghoa berlayar ke Jawa Barat. Gambar : Jung dari armada Zheng-Ho, abad ke 15.
Pada akhir abad ke-7, Kerajaan Tarumanegara diduga kuat sudah lenyap. Daerahnya takluk pada Sriwijaya untuk kemudian pada abad ke-11 berada pada pengaruh Jawa sebagaimana ditunjukkan melalui Prasasti Citatih (Cibadak, 1030 M). Tentang istilah Sunda (Kelapa) itu sendiri baru muncul pada abad ke-10, sebagaimana Prasasti Kebon Kopi II (942 M) dan sebuah catatan (buku) Cina yang mengandung uraian tentang Sunda, Chu-fan-chi, karangan Chau Ju-kua (1178-1225).
Menurut Abdurrachman Surjomihardjo (Sejarah Perkembangan Kota Jakarta), berita-berita tentang adanya masyarakat yang menetap di daerah Jakarta sekarang ini pasca Purnawarman hingga datangnya Portugis tidak banyak jumlahnya. Baru pada awal abad ke-16 terdapat lagi berita-berita mengenai bekas daerah Purnawarman itu. Di daerah itu muncul pelabuhan yang dikenal sebagai Sunda Kelapa yang berada dalam pengawasan kerajaan Hindu Sunda, Kerajaan Pakuan Pajajaran, dengan Ibukota kerajaannya terletak di sekitar Batutulis (Bogor). Orang-orang Tionghoa golongan tua yang ternyata telah cukup lama berkunjung ke kawasan ini kadang masih menyebut Sunda Kelapa sebagai Kota Yecheng atau Kota Kelapa.
Abad ke 4 kapal-kapal india mengunjungi Kepulauan Nusantara. Gambar : Kapal dari kepulauan Maldiva
Selanjutnya >>

Komentar bertahan »

WWW.Jakarta.go.id

JAKARTA MASA DEPAN
Penduduk:
Berpangkal tolak dari kecenderungan penurunan komponen fertilitas, mortalitas dan migrasi maka perkiraan penduduk sampai dengan tahun 2005 dengan metode komponen dan memperhatikan pula potensi pengembangan ekonomi, kepadatan tanah perkotaan, dan kebijaksanaan pemerintahan yang berkaitan dengan pembangunan wilayah sekitarnya, maka jumlah penduduk DKI Jakarta sampai dengan 2005 dapat diprediksikan sbb :
Tahun Jumlah Penduduk
( 1 x 1.000.000 )
Rata-rata Pertumbuhan
( % )
Kepadatan
( Ha )
1961 2,90 4,48 45,0
1971 4,50 4,03 69,8
1980 6,50 3,26 100,8
1985 7,63 3,06 118,4
1990 887 2,32 137,6
1995 9,95 2,03 154,4
2000 11,00 1,76 170,7
2005 12,00 186,2
Tata Kota:
Tata ruang kota Jakarta untuk masa mendatang, sesuai dengan Peraturan Daerah DKI Jakarta Nomor 6 Tahun 1999 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah bahwa arahan penataan ruang wilayah akan ditujukan untuk melaksanakan 3 ( tiga ) misi utama, yaitu :
  1. Membangun Jakarta yang berbasis pada masyarakat;
  2. Mengembangbiakan lingkungan kehidupan perkotaan yang berkelanjutan;
  3. Mengembangkan Jakarta sebagai kota jasa skala nasional dan internasional.
Penataan ruang kota Jakarta dimaksudkan untuk mewujudkan kehidupan masyarakat yang sejahtera berbudaya dan berkeadilan, terselenggaranya pemanfaatan ruang wilayah yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan hidup sesuai dengan kemampuan daya dukung dan daya tampungnya, kemampuan masyarakat dan pemerintah, serta kebijakan pembangunan nasional dan daerah. Selain itu penataan ruang juga bertujuan untuk mewujudkan keterpaduan dalam penggunaan sumber daya alam dan sumber daya buatan serta terselenggaranya pengaturan pemanfaatan ruang pada kawasan lindung dan budi daya.Dengan adanya penataan ruang yang lebih baik dan terarah, diharapkan visi pembangunan kota Jakarta yaitu agar sejajar dengan kota-kota besar negara maju lainnya dapat terwujud.
Sumber www.jakarta.go.id

Komentar bertahan »

Jakarta Kini

JAKARTA KINI
Provinsi DKI Jakarta mempunyai luas daratan 661,52 km2 dan lautan seluas 6.977,5 km2 serta tercatat ±110 pulau yang tersebar di Kepulauan Seribu. Secara administrasi, Provinsi DKI Jakarta terbagi menjadi 5 wilayah Kotamadya dan 1 Kabupaten Administrasi yaitu Jakarta Pusat dengan luas daratan 47,90 km2; Jakarta Utara dengan luas daratan 154,01 km2, Jakarta Barat dengan luas daratan 126,15 km2; Jakarta Selatan dengan luas daratan 145,73 km2; Jakarta Timur dengan luas daratan 187,73 km2 dan Kabupaten Adm. Kepulauan Seribu.
Jumlah penduduk Provinsi DKI Jakarta 9,041 juta jiwa dengan kepadatan penduduk 13.667,01 jiwa per km2. Jakarta beriklim tropis, dengan suhu tahunan rata-rata 27°C dengan kelembaban 80-90%. Karena terletak di dekat garis khatulistiwa, arah angin dipengaruhi oleh angin musim. Angin musim barat bertiup antara November dan April, sedang angin musim timur antara Mei dan Oktober. Curah hujan rata-rata 2.000 mm, curah hujan paling besar sekitar bulan Januari dan paling kecil pada bulan September.
Provinsi DKI Jakarta terletak disebelah Selatan Laut Jawa; sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten/Kota Bekasi; sebelah Selatan dengan Kabupaten/Kota Bogor dan Depok serta sebelah Barat dengan Kabupaten/Kota Tangerang. Lokasi Provinsi DKI Jakarta yang strategis di Kepulauan Indonesia menjadikan Jakarta pintu gerbang utama dalam perdagangan antar pulau dan hubungan Internasional dengan pelabuhan utamanya Tanjung Priok dan Bandara Soekarno Hatta.
Kedudukannya yang khas baik sebagai ibukota negara maupun sebagai ibukota daerah swantantra, menjadikan Jakarta istimewa dan berstatus sebagai Daerah Khusus Ibukota (DKI). Karena fungsi yang diembannya sebagai pusat pemerintahan dan lebih dari 70% peredaran uang berada di Jakarta, menimbulkan konsekuensi sebagai pusat kegiatan ekonomi, perdagangan dan jasa, pusat kegiatan sosial dan budaya dengan berbagai sarana terbaik di Indonesia dalam bidang pendidikan, budaya, kesehatan, dan olahraga.
Jakarta juga memiliki banyak tempat bersejarah dan warisan budaya. Pariwisata merupakan salah satu industri jasa yang pertumbuhannya paling cepat dan mempunyai banyak peluang untuk terus berkembang menjadikan Jakarta sebagai kota budaya dan pariwisata.

Komentar bertahan »

Presiden RI. Dr. H.Susilo Bambang Yudhoyono,MA.

Artikel Buletin GIB

Oleh : Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono, MA at 23 Nop 2007

Menyelamatkan Bumi Secara Bersama-sama

Persoalan menyelamatkan lingkungan alam memang seharusnya menjadi tanggungjawab bersama. Bukan saja antar mahluk namun juga antar kebijakan berbagai negara. Indonesia memiliki kepentingannya sendiri, demikian pula negara lain. Namun diantara berbagai perbedaan kepentingan yang ada, kepentingan menyelamatkan kehidupan di bumu harus menjadi kepentingan bersama. Berkaitan dengan hal itu, dalam sebuah acara di Bali pertengahan bulan Nopember 2007, Presiden SBY mengemukakan pikiran, gagasan dan ajakan kepada rakyat serta masyarakat dunia. Dibawah ini adalah cuplikan dan inti dari pernyataan Presiden SBY.

Adalah menjadi tugas dan misi kita untuk melestarikan alam semesta, menyelamatkan bumi dan tanah air kita, dimana kita hidup dan juga tempat hidup untuk cucu dan generasi mendatang. Kita tentu harus melihat secara utuh alam semesta ini, tanah air, dan bumi kita, yang tentu harus memberikan manfaat terbesar bagi kemanusiaan dan kesejahteraan manusia lahir dan bathin, sekarang dan masa depan.

Kita tidak boleh egois, dengan keserakahan katakanlah dengan tanggung jawab yang rendah, kita menguras semuanya itu dan tidak menyisakan untuk generasi yang akan datang. Kita merusak yang menimbulkan bencana dan malapetaka yang tentunya akan mengganggu civilization atau peradaban dan segala kehidupan di muka bumi ini. Bagi Saudara-saudara yang beragama Hindu juga dikenal yang kita sebut dengan Tripitaka, kedekatan manusia dengan Yang Maha Pencipta, manusia dengan sesama manusia dan manusia dengan lingkungannya. Saya kira ini memiliki nafas dan wilayah universal. Marilah kita wujudkan satu yang baik yang diajarkan oleh agama itu untuk keselamatan dan kesejahteraan umat manusia, utamanya di negeri kita dan tentunya di seluruh dunia.

Saya setuju, saya garis bawahi, dan saya dukung semua prakarsa untuk mengembangkan pusat-pusat seperti taman safari, kebun binatang, taman hewan, museum, galeri, dan lain-lain. Karena jelas tempat-tempat ini baik untuk belajar, untuk study mengenal alam, mengenal flora dan fauna. Yang kedua, juga bisa dilakukan penelitian, research, yang baik. Yang ketiga, tentu baik untuk kita bergembira, sehingga bisa menjadi tempat hiburan, tempat rekreasi yang baik. Dan apabila dikaitkan dengan ekonomi serta kesejahteraan juga menjadi objek wisata yang juga harus menarik bagi para pengunjung. Saya sungguh-sungguh mengajakkita semua untuk bisa mengembangkan objek-objek seperti ini.

Sering saya katakan di berbagai kesempatan, bahwa dunia sekarang ini sedang menuju pada era baru yang kita sebut dengan gelombang keempat, peradaban manusia, fourth wave of civilization. Gelombang pertama, abad pertanian. Gelombang kedua, abad industri. Gelombang ketiga, informasi. Keempat adalah sesungguhnya gelombang 3 plus, yaitu yang bercirikan penghormatan dan keramahan pada lingkungan, karena hanya dengan itulah kehidupan manusia akan terus berlangsung, kita survive dalam kehidupan di dunia ini.

Itulah pula dunia makin sadar, bahwa buminya makin tua, kalau tidak kita pelihara akan makin rusak, sebagaimana presentasi dari Saudara Rahmatsyah tadi, sehingga kita harus bersatu, melangkah bersama, bertindak bersama pula untuk menyelamatkan bumi kita. Itulah sebabnya bulan depan di Denpasar, Pulau Dewata ini akan dilaksanakan Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk membahas, bagaimana kita menghadapi perubahan iklim, climate change dan akhirnya kita bersama-sama dapat menyelamatkan bumi dan masa depan kita.

Kembali kepada peradaban gelombang keempat tadi. Kita harus bisa mengantisipasi, mempersiapkan diri dengan baik, karena ekonomi pun, ekonomi yang nantinya akan meningkatkan kesejahteraan rakyat harus bisa kita kaitkan dengan karakter peradaban gelombang keempat itu. Bukan hanya ekonomi yangberbasiskan pertanian, berbasiskan industri dan berbasiskan jasa informasi, tetapi ekonomi yang juga berbasiskan pada lingkungan dalam arti luas. Ekonomi kreatif yang memadukan seni, kreativitas dan teknologi. Ekonomi produk budaya, culture economy, ekonomi warisan, warisan sejarah, heritage economy, ekonomi lingkungan, wisata lingkungan, eco-tourism, eco-economy. Itu karakter ekonomi gelombang keempat. Indonesia kaya, dengan potensi itu,oleh karena itu, marilah kita menjemput masa depan seperti itu dan kita bersama-sama daya gunakan keunggulan yang dimiliki di negeri kita ini untuk menuju ekonomi gelombang keempat.

Go Global Atau Go Local

Sering ada pertanyaan yang betul itu go global atau go local? Apakah kita harus masuk pada ekonomi dunia yang serba global atau justru kita mendayagunakan keunggulan-keunggulan setempat, keunggulan lokal kita. Saya mengajak, jangan dipertentangkan. Kita sudah hidup dalam era globalisasi. Ekonomi setiap negara terintegrasi dalam era globalisasi. Ekonomi setiap negara terintegrasi dengan ekonomi global. Paling sedikit yang banyak mendapatkan manfaat dari wisata. Wisatawan asing contoh, bahwa ekonomi Bali terintegrasi dengan ekonomi global.

Oleh karena itu, tidak perlu kita gamang terhadap globalisasi. Globalisasi tentu mendatangkan peluang dan tantangan, ada yang baik-baik, ada yang buruk-buruk. Yang buruk jangan diterima, yang baik, baik untuk kita. Ada kompetisi, ada kerjasama. Kita tidak bisa membuktikan dengan globalisasi yang penting kita harus tegas dan menang dalam globalisasi. Tetapi disamping wawasan dan cara-cara yang bersifat global tadi, jangan lupa bahwa akhirnya rakyat kita, rumah tangga kita berada di tempat-tempat yang saya sebut dengan lokal tadi.

Mereka, kalau ada kantong-kantong kemiskinan di negeri ini, ya di desa-desa, di Kecamatan, kalau ada yang masih menganggur ya di Desa, di Kecamatan. Yang merasakan apakah kesejahteraannya makin baik, ya yang tinggal di Desa dan Kecamatan tadi. Oleh karena itu, kalau kita memaknai go local, marilah kita lihat persoalan secara lokal pula. Para Kepala Desa, para Camat, para Bupati, Walikota lokal, menggunakan kekuatan lokal, keunggulan lokal untuk memecahkan masalah lokal tadi. Kalau semua Desa di negeri ini, Kecamatan di Indonesia, Kabupaten dan Kota di negeri yang kita cintai ini berpikir dan bertindak seperti itu, ada masalah lokal, ada tanggung jawab, pemimpin lokal dan dipecahkan secara baik, maka secara keseluruhan Indonesia ke depan akan makin baik. Ini yang saya maksudkan dengan go local. Jangan kita lupa melihat bahwa ada persoalan lokal yang harus dipecahkan, tapi juga ada potensi dan keunggulan lokal yang harus kita daya gunakan sebaik-baiknya. Dengan menggunakan potensi lokal kita bisa membangun daya saing.

Saya ingin semua pemimpin memiliki kreativitas, memiliki inovasi-inovasi tertentu, bertanggung jawab untuk memecahkan masalah lokal tadi. Saya bertanggung jawab terhadap apa yang ada di Indonesia. Pak Gubernur bertanggung jawab terhadap apa yang ada di Provinsi . Pak Bupati bertanggung jawab maju mundurnya Kabupaten, demikian juga para Camat dan Kepala Desa. Tidak ada wilayah di negeri ini yang tidak ada pemimpinnya, terbagi habis, semua punya pemimpin dan kalau pemimpin itu bekerja bersama-sama, bertanggung jawab bersama-sama, saya yakin dengan ridho Tuhan Yang Maha Kuasa banyak masalah yang dapat kita atasi dengan baik dan Masa depan kita tentu akan lebih baik dari sekarang ini.

Selamatkan Bumi secara bersama

Persoalan lingkungan bukan hanya dihadapi oleh Indonesia, dihadapi oleh seluruh umat manusia di dunia. Kalau bumi kita semakin panas, kalau pemanasan global atau global warming tidak bisa kita atasi, apabila emisi karbondioksida tidak terkendali, apabila climate change juga tidak bisa kita kelola dengan baik, yang merasakan seluruh umat manusia di muka bumi ini.

Oleh karena itu, solusinya meski kerjasama global. Benar, negara-negara yang punya hutan, termasuk Indonesia harus, pertama-tama bertanggung jawab untuk menyelamatkan dan mengelola hutannya. Tapi saya juga menghimbau masyarakat dunia, negara-negara lain yang dulunya punya hutan, sekarang tidak punya hutan, yang juga menikmati hasil-hasil hutan dari negara berkembang, yang sebagian karena tidak dikelola dengan baik, ikut pula membantu dan memecahkan permasalahan ini.

Itulah sebabnya Indonesia, saya meluncurkan inisiatif yang saya sebut dengan F-11, kerjasama diantara 11 anggota atau negara yang memilki hutan hujan tropis. Bersama-sama menyelamatkan hutan kita di wilayah Asia, Amerika Latin dan Afrika yang pertemuan pertama sudah berlangsung di New York yang saya pimpin pada bulan September yang lalu, agar bersama-sama kita menyelamatkan hutan.

Itulah sebabnya Indonesia mengeluarkan insiatif yang di sebut Coral Triangle Initiative (CTI) menyelamatkan sumber-sumber hayati yang ada di lautan . Harus kita selamatkan dengan kerjasama yang punya wilayah itu yang membentang Indonesia, Malaysia, Filipina, Timor Leste, PNG, Solomon Island bersama-sama dan juga bantuan masyarakt dunia. Mengapa? Karena lautan menahan karbon, ada carbon sink. Ini yang saya harapkan dapat dikerjasamakan, kita tidak boleh defensif, tidak boleh menyalahkan siapa-siapa, tapi kita harus bertanggung jawab mulai sekarang. Selamatkan hutan kita, selamatkan lautan kita, kalau ada kepentingan ekonomi, kita kelola dengan baik, pengelolaan hutan dengan baik, sehingga ekonomi jalan, kesejahteraan meningkat. Saudara kita yang miskin berkurang di tempat-tempat itu, tetapi hutannya tidak rusak dan itu bisa kita lakukan. Dan dengan kerjasama negara-negara sahabat, negara-negara besar, negara kaya, negara maju yang juga punya kepentingan di dunia ini hutan-hutan selamat. Hanya dengan kerjasama itulah yang akhirnya bisa menyelamatkan bumi kita.

Tuan rumah atau host country, Indonesia bertanggung jawab penuh, mari kita bertanggung jawab penuh dan tentunya diperlukan kerjasama yang adil, yang fair, yang konstruktif. Dengan demikian, semua menang, bumi kita selamat, umat manusia selamat, demikian pula generasi yang akan datang.

 

Komentar bertahan »

Kompas. Com-global Warning

Global Warming Bikin Dunia Banjir Pejantan

<i>Menidia menidia</i>

Selasa, 23 Desember 2008 | 04:05 WIB

Global warming tidak hanya menyebabkan perubahan iklim, tetapi juga mengganggu interaksi seksual di kehidupan liar. Salah satu dampak yang mengkhawatirkan adalah terganggunya perkembangbiakan makhluk hidup karena kenaikan suhu cenderung melahirkan banyak pejantan daripada betina.

Pada kebanyakan hewan melata (reptil), jenis kelamin ditentukan seberapa suhu pengeraman telur setelah dibuahi hingga menetas. Jika suhunya di atas suhu rata-rata, biasa disebut pivotal temperature, hampir pasti akan tumbuh menjadi pejantan. Hal tersebut akan menimbulkan masalah jika tingkat kenaikan suhu melaju lebih cepat daripada kemampuan alam melakukan adaptasi. Jumlah betina akan jauh lebih kecil daripada pejantan.

Ancaman yang sama juga dihadapi kelompok ikan. Penelitian terbaru yang dilakukan Natalia Ospina-Alvarez dan Fransesc Piferrer dari Marine Science Institute di Barcelona, Spanyol, menemukan bahwa 6 genus ikan—dari 20 yang terindikasi—nyata-nyata memiliki jenis kelamin yang ditentukan suhu pengeraman atau biasa disebut TSD (temperature-dependent sex determination). Antara lain, genus Menidia dan Apistogramma.

Hasil penghitungan mereka menunjukkan bahwa kenaikan suhu air sebesar 4 derajat Celcius, yang diprediksi akan terjadi sepanjang abad ini akan menghasilkan rasio pejantan dan betina sebesar 3 berbanding 1. Rasio tersebut sangat berisiko untuk menjamin kelangsungan hidup ikan.

Pada manusia, kenaikan suhu global mungkin tak berpengaruh pada rasio jenis kelamin. Namun, dampaknya tetap mengancam kelangsungan hidupnya di muka Bumi./*
WAH
Sumber : LIVESCIENCE

Komentar bertahan »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.